Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 31 Des 2020 22:34 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ngayau, Tradisi Berburu Kepala Suku Dayak yang Sudah Punah

Inilah potret Rumah Mayat (Kulambu) warisan dari nenek moyang Dayak Taman akan pemakaman bagi yang ditradisikan di sisi sungai Menawik, Kapuas Hulu.
Foto: Ilustrasi tengkorak manusia (Rachman Haryanto/detikcom)
Putussibau -

Suku Dayak punya sebuah tradisi yang bikin geleng-geleng kepala. Di masa lalu, mereka melakukan Ngayau alias tradisi berburu kepala manusia. Bagaimana kisahnya?

Suku Dayak punya tradisi yang bikin bulu kuduk bergidik ngeri. Tradisi itu dikenal dengan nama Ngayau. Mereka akan berburu kepala manusia, memenggalnya, kemudian membawanya pulang ke rumah. Biasanya kepala yang dipenggal itu berasal dari pihak musuh.

Suku Dayak Taman yang tinggal di Desa Ariung Mendalam, Putussibau juga mengenal tradisi tersebut. Di masa lalu, Ngayau kerap dilakukan oleh pria suku Dayak. Biasanya karena yang bersangkutan ingin membuktikan kesaktian atau sedang dalam sebuah misi khusus.

Namun sebuah fakta menarik terungkap ketika detikTravel diajak ke Rumah Mayat Kulambu, pemakaman adat suku Dayak Taman. Di salah satu kulambu, terdapat semacam tiang dari kayu. Di bagian ujung atasnya ada ukiran seperti kepala manusia.

"Itu untuk menancapkan kepala. Kepala manusia. Jadi dulu, orang pergi berangkat Ngayau, pulangnya bawa kepala manusia kemudian ditancap di tiang itu," ungkap Dominikus Giling, Juru Rawat Rumah Mayat Kulambu kepada detikTravel.

Inilah potret Rumah Mayat (Kulambu) warisan dari nenek moyang Dayak Taman akan pemakaman bagi yang ditradisikan di sisi sungai Menawik, Kapuas Hulu.Tiang untuk menancapkan kepala manusia hasil Ngayau Foto: Rachman_punyaFOTO

Rasa penasaran saya pun terusik. Kenapa mesti kepala manusia yang ditancapkan di tiang tersebut sebagai persembahan? Giling pun memberikan penjelasan.

"Buat dijadikan budak. Di alam lain, manusia yang dipenggal kepalanya dari Ngayau akan jadi budak orang itu, buat melayani dia," imbuh Giling.

Selain kepala manusia, terkadang ada juga kepala sapi yang dijadikan persembahan. Kalau sapi, nantinya dia akan jadi kendaraan bagi orang yang meninggal itu di alam selanjutnya.

Namun sekarang, tradisi Ngayau itu sudah punah. Sudah tidak ada lagi warga suku Dayak yang berburu kepala manusia. Sejak agama sudah mulai masuk ke masyarakat, tradisi Ngayau sudah tidak ada lagi.

Kisah lain tentang Ngayau diceritakan oleh Berto Cristian, pemandu yang menemani detikTravel menjelajahi Kapuas Hulu dan perbatasan RI-Malaysia. Menurut Berto, dulu Ngayau juga digunakan untuk menguji kesungguhan calon mempelai pria sebelum memulai biduk pernikahan.

"Dulu kalau ada orang Dayak mau nikah, sama-sama suku Dayak, tapi beda sub suku. Pihak perempuan akan menyebut beberapa syarat, salah satunya satu kepala dari pihak suku si laki-laki," kisah Berto.

Jika syarat itu disetujui, maka pernikahan bisa dilangsungkan. Jika syarat itu ditolak, maka jangan harap pernikahan itu bisa terjadi. Namun sekali lagi, itu dulu. Di zaman sekarang, syarat seperti itu sudah tidak ada lagi. Pun demikian dengan tradisi Ngayau.

Di beberapa rumah betang suku Dayak, konon katanya ada yang masih menyimpan tengkorak manusia hasil Ngayau. Sedangkan di Rumah Mayat Kulambu sudah tidak ada lagi tengkorak hasil Ngayau. Semuanya sudah dikuburkan di dalam tanah dan tidak ada lagi yang menyimpan.


---

Program Tapal Batas mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Tato Dayak Aruk, Wujud Keindahan dan Filosofi Perjalanan"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA