Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 16 Mar 2021 13:35 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Jam Gadang, Hadiah dari Belanda yang Jadi Ikon Bukittinggi

Jeka Kampai
detikTravel
Jam Gadang
Jam Gadang Bukittinggi Foto: Jeka Kampai/detikcom
Bukittinggi -

Jam Gadang selalu menjadi magnet bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ada bayak ungkapan, tak lengkap rasanya datang ke Ranah Minang tanpa mendatangi Jam Gadang, meski harus menempuh perjalanan satu hingga satu setengah jam perjalanan darat dari Kota Padang.

Sejak berpuluh tahun lalu, Jam Gadang telah menjadi ikon kota Bukittinggi yang disebut sebagai Kota Wisata. Dalam Bahasa Minang, Jam Gadang berarti Jam Besar. Ini merupakan 'duplikat' Big Ben London, Inggris.

Dalam sejarahnya, Menara Jam Gadang dibangun pada 1926-1927 atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, sekretaris kota atau controleur Fort de Kock yang sekarang menjadi Kota Bukittinggi, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Jam GadangJam Gadang. Foto: Jeka Kampai/detikcom

Jamnya merupakan hadiah dari Ratu Belanda Wilhelmia. Arsitektur menara dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto dari Koto Gadang, daerah yang tak jauh dari lokasi Jam Gadang berdiri. Pelaksana pembangunan sendiri tercatat adalah Haji Moran dengan mandornya St. Gigi Ameh.

Sejak didirikan, menara jam setinggi 26 meter itu telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya.

Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Maksudnya yakni agar orang Kurai, Banuhampu, sampai Sarik Sungai Puar bangun pagi apabila ayam sudah berkokok.

Pada masa pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menjadi bentuk Pagoda. Terakhir, setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau yakni Rumah Gadang.

Jam GadangJam Gadang. Foto: Jeka Kampai/detikcom

Salah satu keunikan Jam Gadang adalah angka empat pada jamnya tidak dituliskan 'IV', melainkan empat huruf I, atau 'IIII'. Mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya diproduksi dua unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Unit kedua yang setipe dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London di Inggris yaitu Big Ben.

Di masa kini, Jam Gadang terus bertransformasi menjadi lokasi yang ikonik. Jam Gadang semakin ciamik dengan area pedestrian dilengkapi dengan air mancur menari.

Lampu warna-warni juga membuat tampilan Jam Gadang makin menarik. Sayang, jika melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen disini. Dari Jam Gadang selalu menarik, dari sisi manapun kita memotretnya.



Simak Video "Jam Gadang Ditutup Kain Putih, Dilarang Rayakan Tahun Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA