Setelah melalui perjalanan panjang dari Jakarta, akhirnya saya dan rombongan Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Jakarta tiba di Yinchuan. Ya, beberapa waktu lalu kami memang berkunjung ke Yinchuan untuk mengikuti konferensi wisata muslim.
Provinsi Ningxia jadi tuan rumah untuk perheletan besar yang diikuti oleh 20 negara ini. Kebetulan, penduduk China yang beragama Islam banyak tinggal di sini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lelah terlihat diseluruh wajah rombongan. Rasa penasaran dengan destinasi tujuan, khususnya Yinchuan tentu memuncak, terlebih begitu kaki berhasil menginjak tanah kota ini.
Dengan langkah tergesa-gesa, kami semua keluar dari bandara. Ingin tahu, seperti apa sih kota yang ditempuh dengan perjalanan panjang ini?
Ternyata meski ini adalah ibukota provinsi, Yinchuan berbeda sekali dengan Surabaya, Bandung, Padang atau Makassar di Indonesia. Yinchuan termasuk sepi, sejuk, bersih, tertib dan bebas macet.
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju penginapan, kami tidak menemukan penumpukan kendaraan di satu tempat. Bahkan, ketika lampu merah pun, tidak terjadi tumpukan mobil.
Rasa bingung dengan fenomena ini sempat terlintas di benak saya. Tapi kemudian semua pertanyaan terjawab. Setelah diperhatikan, kebanyakan warga Yinchuan masih menggunakan sepeda. Hanya sedikit penduduk yang menggunakan mobil atau motor.
Selain itu, rasanya tak banyak penduduk yang tinggal di kota ini. Setidaknya, ini terlihat dari masih banyak lahan kosong di sepanjang kota yang dijadikan ladang. Rumah dan gedung bertingkat pun tak terlihat banyak di sana.
Yang paling saya senangi dari kota ini adalah udara segar. Karena tidak dipadati kendaraan, kota ini bebas asap yang menyesakkan dada. Segar!
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Cerita Pilot Wanita Garuda Terbangkan Bryan Adams dan Diundang ke Konsernya