Selain merupakan tempat ibadah masyarakat Jepang, kuil ini juga sebagai penanda mulai terbukanya Jepang pada adat dan istiadat negara lain, terutama Eropa di era Meiji setelah akhir era Tokugawa.
Kuil yang terletak di kawasan Shibuya, Tokyo ini menjadi salah satu tempat pelarian saya, setelah menikmati panasnya udara Tokyo yang saat musim panas seperti ini bisa mencapai 34 derajat Celcius. Udara yang panas ini membuat saya harus terus memicingkan mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di saat musim panas, Anda akan disambut dengan bunyi hewan khas musim panas seperti tonggeret (ada juga di Jepang ternyata!). Bunyi hewan ini akan terdengar begitu Anda memasuki gerbang Kuil Meiji yang terbuat dari kayu besar.
Udara panas di Tokyo seakan-akan sirna begitu memasuki gerbang Kuil Meiji. Karena di sebelah kiri dan kanannya terdapat pohon-pohon berukuran besar yang menyerap udara panas.
Jalanan di Kuil Meiji ini hanya kerikil dan pasir-pasir saja, jadi Anda akan mendengarkan bunyi derap langkah Anda ketika berjalan. "Bagi orang Jepang, bunyi pasir dan kerikil ini menyejukkan," ujar Yudha, salah seorang warga Indonesia yang tengah bermukim di Jepang.
Yang menarik pula kadang ada petugas kuil yang menyapu pasir dan kerikil ini dengan sapu lidi berukuran besar untuk membersihkan sisa-sisa daun dari jalan atau untuk sekedar merapikan pasir dan kerikil.
Selain itu, di sisi kiri dan kanan sebelum gerbang kuil terdapat beberapa tong-tong besar anggur Prancis dan minuman khas Jepang, sake. Inilah salah satu ciri Jepang mulai membuka dirinya pada negara luar. Anggur ini dikirimkan oleh importir Anggur dari Prancis.
Sebelum memasuki kuil, ada tempat untuk bersuci. Mirip seperti agama lainnya, mereka yang ingin beribadah di kuil ini harus menyucikan terlebih dulu. Caranya, membersihkan tangan kiri, kanan, kemudian tuangkan air ke tangan kiri Anda, dan kumur mulut. Setelah itu bersihkan lagi tangan kiri Anda.
Setelah bersuci, mereka yang ingin berdoa di dalam kuil bisa memberikan koin di tempat yang sudah disediakan. Membungkuk dua kali, tepukkan tangan 2 kali, dan kemudian membungkuk lagi. Begitu cara berdoa di kuil Meiji ini.
Jika berdoa masih dirasa kurang, Anda bisa menuliskan beberapa kata pengharapan pada kayu yang akan ditempel di papan-papan yang terletak di sebuah pohon besar. Presiden AS Barack Obama saat mengunjungi Jepang beberapa waktu lalu sempat menuliskan harapannya di papan kecil ini. Sayang saat saya mencoba mencari papan Obama, saya tidak menemukannya.
Kuil Meiji sebenarnya merupakan tempat penghormatan pada Kaisar Meiji dan istrinya Shoken yang dibangun pada 1 November 1920. Kuil ini memiliki luas total 700.000 meter persegi.
Selain sebagai tempat berdoa, kuil ini bisa juga dipakai untuk tempat pernikahan. Namun pastinya biaya sewanya sangat mahal.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru