Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 27 Mei 2021 05:03 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Qala-e-Kohna Dulu Istana Para Sultan, Kini Jadi Rumah Pengungsi

Femi Diah
detikTravel
Komplek istana musim dingin Qala-e-Kohna di Afghanista. (AFP/WAKIL KOHSAR)
Kompleks Qala-e-Kohna yang jadi tempat pengungsi sekarang. (Wakil Kohsari/AFP)
Jakarta -

Reruntuhan dari tanah liat di Afghanistan yang menjadi tempat tinggal korban perang, termasuk para janda, bukan bangunan biasa. Qala-e-Kohna atau Lashkari Bazar dulunya adalah istana para sultan di musim dingin.

Bangunan dari tanah liat itu menjorok dari tebing di sepanjang Sungai Helmand. Bangunannya mencolok, namun sudah tidak utuh lagi.

Di sanalah para pengungsi akibat serangan Taliban sejak Oktober tinggal. Mereka memilih untuk tidak kembali ke Lashkar Gah, salah satu dari sedikit daerah yang masih di bawah pemerintah.

Warga lokal menyebut reruntuhan bangunan itu dengan Qala-e-Kohna. Para arkeolog menamainya Lashkari Bazar.

Ya, reruntuhan bangunan dari tanah liat itu merupakan bangunan bersejarah. Bangunan itu menarik perhatian internasional karena skalanya, arsitektur, dan muralnya yang luar biasa.

Berada di atas lahan lebih dari 10 kilometer, situs ini adalah satu-satunya kediaman musim dingin untuk para sultan Ghaznavid dan Ghurid, dua dinasti yang menguasai wilayah yang saat ini disebut Afghanistan antara abad ke-10 dan ke-13. Kawasan itu dulu menjadi pusat penyebaran seni Islam hingga ke utara India.

"Tidak ada tempat di dunia Islam di mana kita memiliki sesuatu seperti ini, situs yang koheren, rumit, dan semuanya masih relatif terpelihara dengan baik," kata Philippe Marquis, direktur Delegasi Arkeologi Prancis di Afghanistan (DAFA), seperti dikutip AFP.

"Penting untuk melestarikannya karena kami yakin bangunan itu akan banyak mengajari kami tentang masa waktu itu," dia menambahkan.

Dikuasai Mafia

Di antara menara kuno di Qala-e-Kohna, sudah ada pintu dan jendela. Dinding yang runtuh dilapisi dengan campuran tanah liat dan jerami untuk memperkuatnya dan menutup celah.

Sebuah pintu besi tempa biru mengarah kepada dua kamar Agha Mohammad yang sempit. Kamar itu ditinggali 11 orang.

Di sana terdapat ayunan sederhana untuk bayinya.

"Saya ingin pemerintah memberi saya tempat tinggal. Lihat retakan di atap. Saya khawatir suatu malam atap itu akan jatuh," kata Mohammad, seorang polisi berusia 33 tahun yang distriknya jatuh ke tangan Taliban.

Kawasan selatan Afghanistan menjadi ladang pertempuran baru setelah pembicaraan antara pemerintah Afghanistan dan para pemimpin Taliban terhenti. Sementara itu, Amerika Serikat bersiap untuk menarik pasukannya yang terakhir pada September.

"Saya harus mendapat dukungan dari pemerintah, karena saya kehilangan tiga putra yang berperang," kata ibu berusia 48 tahun Bibi Halima.

"Setiap rumah penuh dengan janda," seorang penghuni lainnya menimpali.

Banyak warga yang berasal dari keluarga polisi yang tidak mampu untuk tinggal di tempat lain. Padahal, di situ listrik dan air ledeng tidak selalu ada.

Tapi, kesengsaraan mereka justru ditumpangi oleh orang-orang yang tidak memiliki hati. Seorang pejabat dari departemen arkeologi negara itu mengatakan ada laporan perampasan tanah di situs tersebut. Beberapa keluarga terpaksa membayar sewa kepada mafia setempat.

"Ini tempat hantu, bukan manusia," kata Khudai Nazar (54).

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA