Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 23 Feb 2021 05:02 WIB

TRAVEL NEWS

Ketika Gereja, Masjid, dan Sinagoga Bersama Dalam Satu Atap

Desain rumah ibadah tiga agama di Jerman.
House of One itu akan menyatukan gereja, masjid dan sinagoga dalam satu atap. (Kuehn Malvezzi/istimewa)
Berlin -

Urusan agama, Jerman memang cukup terbuka. Kini mereka tengah membangun satu rumah ibadah untuk tiga agama berbeda sekaligus.

Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Selasa (23/2/2021), Jerman punya rencana untuk membangun sebuah rumah ibadah tiga agama yang nantinya akan disebut churmosquagogue.

Sesuai namanya, rumah ibadah yang dinamakan House of One itu akan menyatukan gereja, masjid, dan sinagoga dalam satu atap. Lokasi persisnya ada di Kota Berlin, Jerman.

Diketahui, rumah ibadah tiga agama itu akan segera dibuka pada 27 Mei mendatang. Proses pembangunannya sendiri telah memakan waktu sekitar empat tahun, dengan 10 tahun perencanaan.

Hadirnya rumah ibadah tiga agama itu juga sekaligus menandai tahapan baru dalam dialog lintas agama. Terlebih, akan ada satu ruang khusus di dalamnya yang diperuntukkan bagi siapa saja termasuk orang yang tidak beragama.

"Idenya sangat simpel. Kami ingin membangun sebuah rumah ibadah dan pembelajaran, di mana ketiga agama dapat bersinergi sambil tetap menjaga identitas mereka," ujar Roland Stolte, seorang ahli teologi Kristen yang menjadi inisiator proyek tersebut.

Selain Roland, pembangunan rumah ibadah itu juga didukung oleh seorang Rabi yang bermitra dengan seorang imam.

"Ada banyak jalan untuk memuliakan Tuhan, di mana masing-masing jalan adalah baik. Di House of One, umat Kristen, Islam dan Yahudi beribadah secara terpisah, tapi masing-masing akan saling berkunjung saat perayaan ibadah dan kegiatan lainnya," ujar Rabi Andreas Nachama.

Ia menambahkan, hadirnya rumah ibadah tiga agama itu menjadi lebih dari sekedar simbol. Di mana sekaligus menjadi awal era baru tanpa kebencian.

Lokasi pembangunan rumah ibadah tiga agama itu berada di atas Gereja St Peter di Petriplatz yang sempat rusak akibat Perang Dunia II dan dihancurkan tahun 1964.

Barulah ketika fondasi gereja itu ditemukan kembali sekitar satu dekade lalu, muncullah ide untuk membuat suatu monumen atau gereja baru di lokasi tersebut.

"Namun, kami ingin membuat sebuah bangunan keramat yang merefleksikan Berlin dewasa ini," tambah Roland.

Untuk informasi, rumah ibadah itu didesain secara khusus oleh arsitek Berlin bernama Kuehn Malvezzi. Dana pembangunannya juga tak sedikit, yakni 47 juta Euro atau sekitar Rp 806 miliar.

Dalam prosesnya, Pemerintah Jerman menyumbang sekitar 30 juta euro. Sisanya, datang dari donasi dan penggalangan dana. Menariknya, proses pembangunan juga didukung oleh sejumlah komunitas agama.



Simak Video "Sunyinya Natal di Berlin Akibat Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA