Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 07 Mei 2021 20:10 WIB

TRAVEL NEWS

Stigma Sopir Bus Urakan, Mereka Berasal dari 3 Golongan Ini

PO SAN
Sopir atau pengemudi bus PO SAN (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Jakarta -

Bos dari PO SAN menjelaskan tentang stigma para sopir atau pengemudi bus yang dianggap urakan. Kata dia, mereka berasal dari tiga golongan ini.

Sebelum membahas tentang kru bus, traveler harus tahu tentang dapur mereka. Dapat dibilang bahwa hingga saat ini, masih sedikit pengemudi bus yang memiliki pendidikan bagus.

"Profesionalisme ini hal unik di dunia bus. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kru, kita cari yang pintar bersekolah tinggi, kemungkinan besar kompetensinya lemah," kata Kurnia Lesani Adnan selaku Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) pada detikTravel beberapa waktu lalu.

Jelas Sani, profesi pengemudi bus hingga saat ini belum memiliki standar yang jelas. Ia lalu membandingkannya dengan profesi serupa, yakni pilot hingga masinis.

"Ada yang akademinya zero tapi kompetensinya tinggi. Artinya, profesi pengemudi ini belum mendapatkan satu standar jelas dan pasti, tak seperti persyaratan pilot, nakhoda sampai masinis," kata Sani.

H. Hasanuddin Adnan - Komisaris Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) dan Kurnia Lesani Adnan - Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN)H. Hasanuddin Adnan - Komisaris Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) dan Kurnia Lesani Adnan - Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) (Dok. PO SAN)

Ke topik utama, Sani menjelaskan asal-usul para sopir atau pengemudi bus. Menurut dia, sebagian besar pengemudi berasal dari tiga golongan ini.

"Sampai hari ini, selama 28 tahun saya membantu beliau, menurut saya 85% pengemudi terdiri dari tiga golongan," dia mulai menguraikan.

"Pertama, anak nakal lari dari rumah nongkrong di terminal, nengok-nengok lalu jadi pengemudi (sopir bus). Kedua, anak durjana melawan orang tua dengan sumpah serapah lari dari rumah nongkrong di terminal pangkalan jadi begitu juga," kata Sani.

"Yang ketiga orang hopeless. Nggak ada kerja lain lagi, formalnya bisa, tengak-tengok belajar nyopir bisa, entah itu bawa angkot, taksi, mikrolet segala macam. Nah di situ merek meningkatkan kompetensinya dengan otodidak sampai akhirnya bawa bus," imbuh dia.

H. Hasanuddin Adnan - Komisaris Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) dan Kurnia Lesani Adnan - Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN)H. Hasanuddin Adnan - Komisaris Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) dan Kurnia Lesani Adnan - Direktur Utama PT. SAN Putra Sejahtera (PO. SAN) (Dok. PO SAN)

Oleh karena hal di atas dan pengamatannya selama bertahun-tahun, Sani menyebut bahwa para sopir bus ini masih emosional. Jadi stigma urakan memang sangat melekat di mereka.

"Kami melakukan pengamatan dan analisa. Dari 85% itu, 90%-nya hidupnya membawa bagasi emosi. Jadi mengekspresikan di jalan raya dengan arogansi, gampang berantem dan ribut," jelas dia.

"Jadi tendensi stigma sopir urakan itu memang sangat kental. Saya tak bisa tampik," imbuh dia.

Meski demikian, PO SAN tak ingin stigma itu melekat ke dalam krunya. Oleh karenanya, Sani membekali semua rekannya dengan kompetensi masing-masing tanpa melupakan pelayanan.

"Di situlah SAN dengan pengalaman membimbing mereka. Kalau kamu jadi kenek, harus tahu apa yang dibutuhkan kendaraan itu," jelas Sani.

"Bagaimana cara mencuci, merawat, melayani penumpang. Kalau mau jadi pengemudi harus tahu apa yang dilakukan oleh kenek," imbuh dia.

"Kalau kamu mau jadi mekanik harus tahu cara pengemudi (sopir bus) mengemudikan kendaraan dan kenek menjaganya. Kalau mau jadi bos harus tahu semuanya," kata bos kedua PO SAN itu.



Simak Video "Sopir Bus di Garut Diciduk Polisi, Nekat Edarkan Sabu di Tempat Wisata"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA