Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 18 Sep 2021 12:51 WIB

TRAVEL NEWS

Lebih Dekat dengan Stasiun Jakarta Kota

Syanti Mustika
detikTravel
Stasiun Jakarta Kota sebagai cagar budaya
Stasiun Jakarta Kota. Foto: (Pradita Utama)


Persiapan pembangunan stasiun baru


Mulanya, Kepala Insinyur SS yakni Ir. C. W. Koch diberi tugas untuk merancang stasiun baru tersebut. Koch mendesain sebuah stasiun dengan fasad memanjang dengan pintu masuk yang monumental di bagian tengah. Di salah satu sudut bangunan didirikan sebuah menara jam. Namun rencana tersebut urung direalisasikan karena alasan ekonomi dan tidak disetujui.

Kemudian, seorang arsitektur kenamaan kelahiran Tulungagung, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels dari biro arsitek Algemeen Inginieurs en Architectenbureau (AIA) mengambil alih peran merancang stasiun terminus dengan 12 jalur tersebut. Ghijsels pun mencoba membuat beberapa variasi desain pintu masuk utama pada tampak depan bangunan.

"Dia mengambil arsitektur lengkung dengan pasak yang lebih rendah, jadi lebih megah dan lebih luas. Dari awal stasiun ini dibangun, sudah mengakomodir 12 jalur. Jadi orang-orang dahulunya keberangkatan awalnya itu dari Jakarta Kota, maka disebut stasiun ini dulu terminus karena tidak sudah tidak ada lagi jalurnya alias ini pemberhentian terakhir," jelas Hardika.

Lalu, diputuskan desain stasiun berupa sebuah bangunan lebar, fasad yang rendah dengan sisi tengahnya terdapat sebuah atap besi melengkup yang megah. Pada Juni 1927, Ghijsels merampungkan desainnya. Selanjutnya Stasiun Batavia Zuid dirobohkan.

Konstruksi pembangunan stasiun baru dikerjakan oleh kontraktor Hollandse Beton Maatschappij. Dua tahun berselang, tepatnya pada 8 Oktober 1929 Stasiun Batavia Benedenstad diresmikan.

"Setelah bangunan rampung, Sebuah upacara selamatan dilakukan pada pagi hari, pegawai pribumi sejumlah 500 orang berkumpul di Stasiun Batavia Nord. Untuk memeriahkan pembukaan, sebuah perayaan digelar dengan menghadirkan pertunjukan wayang dan beberapa penari ronggeng," tutup Hardika.

Stasiun Jakarta Kota sebagai cagar budayaStasiun Jakarta Kota sebagai cagar budaya Foto: (Pradita Utama)

Pembagian wilayah stasiun

Dikutip dari halaman Heritage KAI, unit-unit massa Stasiun Jakarta Kota terbagi beberapa bagian. Unit massa kepala meliputi unit massa sayap, gerbang masuk utama dan peron. Ada unit massa menara (utama/depan, samping, dan gerbang samping). Konfigurasi massa bangunan linier secara keseluruhan membentuk huruf T.

Peron menggunakan rangka atap frame berbentuk butterfly shed (kupu-kupu) dengan penyangga kolom baja profil dipakai pada stasiun ini. Dinding bagian dalam hall diselesaikan dengan keramik berwarna coklat bertekstur kasar, sedangkan dinding luar bagian bawah seluruh bangunan ditutup dengan plesteran berbutir berwarna hitam.

Dinding yang sama pada concourse diselesaikan dengan ubin pola waffle berwarna kuning kehijauan. Lantai stasiun menggunakan ubin berwarna kuning dan abu-abu, dan untuk lantai peron dipakai ubin pola waffle berwarna kuning.

Stasiun Jakarta Kota sebagai cagar budayaStasiun Jakarta Kota sebagai cagar budaya Foto: (Pradita Utama)

Atap barrel-vault yang digunakan pada stasiun Jakarta Kota terlihat jelas pada hall utama. Dinding bagian dalam hall diselesaikan dengan keramik berwarna coklat bertekstur kasar. Bukaan terbesar terdapat pada lunette yang berfungsi sebagai jendela. Lunette berbentuk busur semisirkular dengan unit bukaan vertikal sebanyak tujuh buah pada lunette utama.

Bukaan pintu pada Stasiun Jakarta Kota terbentuk akibat penggunaan kolom-kolom penyangga atap (kanopi) yang menghasilkan suatu unit massa sendiri. Pengolahan bidang di sekitar bukaan dengan penggunaan bata kerawang di atas pintu dan ubin waffle pada dinding bagian bawah serta daun pintu tambahan yang berfungsi sebagai pintu angin.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Tapak Tilas Bangunan Estetik Bersejarah Stasiun Jakarta Kota"
[Gambas:Video 20detik]

(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA