Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 01 Jan 2021 06:12 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Madu Hutan, Oleh-oleh Anti Mainstream dari Perbatasan RI-Malaysia

Penjual Madu di Pasar Lanjak
Foto: Menjelaskan perbedaan madu asli dan palsu ke pelanggan (Wahyu Setyo Widodo/detikTravel)
Lanjak -

Hanya berjarak 1 jam dari perbatasan RI-Malaysia, traveler bisa berbelanja oleh-oleh anti mainstream di Pasar Lanjak. Jangan beli ikan, belilah madu hutan.

Lanjak Deras adalah daerah yang cukup strategis di perbatasan RI-Malaysia. Lanjak berada di antara Putussibau (ibu kota Kapuas Hulu) dan Badau (kecamatan di Kapuas Hulu yang berbatasan langsung dengan Malaysia).

Lanjak pun kerap jadi tempat singgah pelancong yang hendak menyeberang ke Badau atau pun sebaliknya. Tak heran jika aktivitas ekonomi di Lanjak cukup bergeliat. Pasar Lanjak jadi bukti nyata bergairahnya aktivitas ekonomi di daerah ini.

Di Pasar Lanjak, kita bisa menemukan aneka produk khas yang bisa dijadikan buah tangan. Karena lokasinya dekat dengan Danau Sentarum, aneka olahan ikan pun jadi primadona untuk jadi oleh-oleh di sini. Mulai dari ikan salai (ikan asap) hingga kerupuk ikan pun ada.

Yang sedikit anti mainstream adalah madu hutan yang diperoleh dari sekitar Danau Sentarum. Rupanya ada salah satu pedagang di pasar Lanjak yang menjual madu hutan. Dessy Susanti, nama penjual itu.

Selain menjual aneka produk olahan ikan, Dessy juga menjual madu hutan. Dia menjualnya dalam satuan liter. Satu liter madu hutan dia banderol seharga Rp 180 ribu.

Dessy pun mengklaim madu yang dijualnya itu asli. Dessy pun memberikan sedikit tips untuk membedakan madu asli dengan madu aspal (asli tapi palsu alias KW).

"Madu asli pak, kalau ditaruh di atas tisu dia tidak akan basah. Kalau basah, bukan asli," kata Dessy.

Selain itu, bisa juga dengan meneteskan madu ke dalam segelas air. Jika tetesan madu itu tenggelam, maka madu itu asli. Jika malah tercampur dengan air, bisa diduga madu itu palsu.

Dessy yang juga nasabah KUR Mikro dari Bank BRI merasa bersyukur, dari hasil jualan ikan dan madu di pasar Lanjak, dia bisa membantu perekonomian keluarga dan menghidupi kedua anaknya. Dessy mengambil KUR BRI sebesar Rp 50 juta.

Uang tersebut dia gunakan untuk permodalan dan mengembangkan usahanya. Suami Dessy yang berprofesi sebagai sopir taksi jurusan Pontianak-Lanjak pun mendukung apa yang dilakukan istrinya itu.

"Sangat terbantu. Bisa untuk tambahan modal. Bersyukur sekali bisa dapat KUR dari BRI," ujar Dessy.


---

Program Tapal Batas mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Meraih Asa di Jantung Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA