Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 09 Jun 2021 20:21 WIB

TRAVEL NEWS

Kisah Perempuan Jalan Kaki Keliling Dunia: Diperkosa, Kena DB, Juga Temui Kebaikan

Femi Diah
detikTravel
Angela Maxwell
Angela Maxwell, perempuan yang berjalan kaki keliling dunia. (Instagram @angelamariemaxwell)

Banyak Kebaikan

Sepanjang jalan saat dia berkeliling dunia itu, langkahnya yang lambat memungkinkannya untuk mempelajari budaya lain, secara singkat tapi mendalam.

Dia menjelajahi desa-desa kecil di tepi pantai di sepanjang Laut Tyrrhenian Italia, turut dalam suasana yang semarak, dan menerima undangan untuk berbincang, duduk, dan minum anggur.

Di Vietnam, saat lelah usai mencapai puncak Hai Van Pass, dia disambut perempuan tua yang mengundangnya untuk beristirahat di gubuk kayu kecilnya di puncak untuk bermalam.

Satu persahabatan berkembang di perbatasan antara Mongolia dan Rusia. Mereka kembali bertemu bertahun-tahun setelahnya di Swiss. Maxwell bahkan menjadi ibu baptis bagi putri seorang perempuan yang ditemuinya di Italia.

Maxwell berpatokan pada dua hal pada setiap perjalanannya dan saat berjumpa dengan penduduk setempat. Apakah pertemuan antarbudaya ini berlangsung selama tujuh menit atau tujuh hari.

Untuk itu, dia tidak pernah melupakan dua poin penting dalam perjalanan keliling dunianya itu.

Pertama, menjadi pendengar yang baik untuk belajar.

"Perjalanan ini telah mengajari saya bahwa segala sesuatu dan setiap orang memiliki cerita untuk dibagikan, kita hanya harus mau mendengarkan," kata dia.

Dia bisa sangat menikmati mempelajari resep keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi di sebuah desa Italia, mencoba-coba turut aktif dalam peternakan lebah di Republik Georgia, sampai penanganan unta di Mongolia di Jalur Sutera yang bersejarah.

Kedua, Maxwell belajar pentingnya kontribusi. Dia memotong kayu di Selandia Baru dan berbagi makanan kepada para tunawisma di Italia. Di kawasan Sardinia, dia membantu seorang petani Italia merenovasi rumahnya.

Ke mana kisah itu bermuara? Maxwell tidak mau cuma menyimpan perjalanannya itu dalam buku harian untuk dirinya sendiri. Sama sekali tidak.

Maxwell berbicara di pertemuan informal, sekolah dan universitas, dan bahkan di panggung TEDx di Edinburgh. Dia berbagi pengalaman untuk menginspirasi orang lain.

Maxwell menyuarakan pemberdayaan perempuan, terutama setelah dia memutuskan untuk terus berjalan meskipun ada serangan di Mongolia.

"Berhenti tidak pernah menjadi pilihan saya," katanya.

Sepanjang perjalanan keliling dunia itu, Maxwell mengumpulkan donasi untuk LSM seperti World Pulse dan Her Future Coalition yang fokus mendukung anak perempuan dan perempuan muda. Total, dia mengumpulkan sekitar USD 30.000 atau sekitar Rp 429 juta.

Menyelami rasa ingin tahu dan pikiran yang terbuka, kata Maxwell, adalah cara yang ampuh untuk "lebih mendalami dunia dan penghuninya". Selama enam setengah tahun, Maxwell menjalani gaya hidup penuh rasa ingin tahu, ketidakpastian, dan kerentanan ekstrem.

Dia melakukannya untuk mencari sesuatu yang dia tidak pernah yakin akan temukan: kebahagiaan pribadi dan hubungan yang lebih dalam dengan dunia di sekitarnya.

Sama seperti dia telah menjawab panggilan untuk memulai perjalanan keliling dunia, dia tahu waktu yang tepat untuk mengakhirinya. Maxwell juga tahu bahwa petualangan ini telah menjadi cara hidup yang bisa dia jalani kapan saja.

Pada 16 Desember 2020, perjalanan Maxwell berakhir tepat di tempat awalnya: di rumah sahabatnya Elyse di Bend.

Saat ini, dia sedang menulis sebuah buku. Dia menyusun rencana perjalanan berikutnya dan menciptakan cara agar perempuan menemukan, mengekspresikan, dan mewujudkan keberanian dalam kehidupan sehari-hari.

Entah berjalan kaki mengarah ke belahan dunia atau di ujung jalan, Maxwell telah menunjukkan nilai sebenarnya dari memperlambat aktivitas, memberi lebih banyak perhatian, dan memberi lebih dari yang kita terima di sepanjang jalan.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA