Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 22 Jul 2019 16:10 WIB

TRAVEL NEWS

Isu Penutupan Pulau Komodo Sampai Diulas Media Inggris

Afif Farhan
detikTravel
Turis yang sedang berfoto dengan komodo di Pulau Komodo (Afif/detikTravel)
Turis yang sedang berfoto dengan komodo di Pulau Komodo (Afif/detikTravel)
Jakarta - Isu penutupan Pulau Komodo terus bergulir. Belum ada keputusan resmi pemerintah, namun sudah ada gejolak antara Pemprov NTT dan warga Pulau Komodo.

'The fight for Dragon Island', begitu judul ulasan khusus BBC mengenai isu penutupan Pulau Komodo. Dijabarkan panjang, BBC menjelaskan pro kontra wacana penutupan Pulau Komodo yang terus berlarut-larut.

Dilihat detikcom, Senin (22/7/2019) BBC mengangkat dua sisi pendapat, antara pihak Pemprov NTT dari gubernurnya Viktor Bungtilu Laiskodat dan warga Pulau Komodo. Asal tahu saja, Pulau Komodo yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo, tidak hanya dihuni oleh 'Si Naga Purba' saja. Namun, ada 2.000 penduduk di sana yang sudah tinggal di pulaunya jauh sebelum Pulau Komodo jadi wilayah konservasi dan taman nasional.

BACA JUGA: Pak Jokowi, Tolong Jangan Tutup Pulau Komodo

BBC menjelaskan dulu mengenai rencana penutupan Pulau Komodo yang digagas Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Dijelaskan, Viktor dengan tegas ingin menutup Pulau Komodo dengan alasan untuk menjaga kelestarian dan keaslian alamnya. Bahkan, ingin memindahkan penduduk di Pulau Komodo.

"Ini disebut Pulau Komodo, jadi Pulau Komodo bukan untuk manusia. Tidak akan ada hak asasi manusia di sana, hanya hak-hak binatang," katanya.

"Penduduk bisa bangun rumah di pulau lain," lanjutnya.

Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (Shinta/detikTravel)Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (Shinta/detikTravel)


Selain soal penutupan, Viktor mau menetapkan biaya masuk yang tinggi ke Pulau Komodo. Kesannya, Pulau Komodo akan menjadi eksklusif dan tak kalah dari tempat eksklusif manapun di dunia.

"Kita akan naikin menjadi USD 1.000 (setara Rp 13,9 juta-red) untuk masuk selama satu tahun. Kalau ada 50.000 pengunjung, kita bisa dapat USD 50 juta," terangnya.

Rencananya, pertama-tama Pulau Komodo akan ditutup selama 1 tahun untuk konservasi dan penduduknya dipindahkan. Lalu setelah itu, barulah dibuka kembali tapi dengan tiket masuk yang eksklusif dan lebih mahal.

Komodo di Pulau Komodo (Afif farhan/detikcom)Komodo di Pulau Komodo (Afif farhan/detikcom)


Viktor pun menjelaskan, komodo kini terlihat begitu jinak karena sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia di Pulau Komodo. Menurutnya, 'liarnya' komodo sudah hilang.

"Kita akan membuat Komodo liar, tidak seperti komodo yang jinak sekarang. Orang-orang akan datang dan melihat komodo di habitat alaminya yang liar dan berbahaya," katanya.

BACA JUGA: Apakah Pulau Komodo Tidak Ditutup, Tapi Jadinya Eksklusif?


Pendapat Ahli

Tim Jessop, seorang akademisi Australia yang telah memantau populasi Komodo dalam kemitraan bersama Taman Nasional Komodo sejak 2002, angkat suara soal isu penutupan Pulau Komodo. Dia mengaitkannya dengan pencemaran lingkungan.

"Memang, banyaknya kapal yang membawa pengunjung ke Pulau Komodo akan berdampak pada sampah di lautan. Sampah di lautan akan sangat berdampak pada kehidupan laut dan merusak alam," ujar Tim.

Tim bahkan sudah sering kali memberikan masukan kepada pihak-pihak terkait soal pengolahan sampah. Namun menurutnya, tentu itu bukan hal mudah dan instan, butuh proses panjang dari kesadaran masyarakat di Labuan Bajo sampai di Pulau Komodo hingga operator-operator wisata.

"Mereka perlu membuat aturan ketat untuk operator tur, hotel, resor, dan pusat selam. Mereka perlu menjaga lingkungan di sini," tegasnya.

Terdapat sekitar 2.000-an komodo di Taman Nasional Komodo, paling banyak habitatnya di Pulau Komodo  (Moch Prima Fauzi/detikcom)Terdapat sekitar 2.000-an komodo di Taman Nasional Komodo, paling banyak habitatnya di Pulau Komodo (Moch Prima Fauzi/detikcom)


Soal pengunjung, apakah Pulau Komodo sudah 'overload'?

"Hanya 3-4 persen wilayah di Pulau Komodo dan Pulau Rinca (yang ada komodonya), yang didatangi pengunjung. Sepertinya tidak ada masalah soal itu," jawab Tim.

"Saya juga telah menyusuri Pulau Komodo dan melihat kehidupan di Desa Komodo lebih dekat. Mereka begitu menjaga alamnya, jadi tidak ada masalah dengan penduduk di sana," lanjutnya menjelaskan.


Protes Keras dari Warga Pulau Komodo


Perlu diketahui, ada 2.000 jiwa penduduk di Pulau Komodo yang terbagi dalam 500 KK, 1 desa, 5 dusun dan 10 RT. Desa di Pulau Komodo bernama Desa Komodo, yang warganya sudah menolak dan protes keras dari awal isu penutupan Pulau Komodo dicanangkan.

Kepala Desa Komodo, Haji Amin menjelaskan bahwa selama ini warga Desa Komodo hidup dengan harmonis bersama komodo. Tidak pernah ada, warga desa yang berburu, menangkap apalagi sampai menyelundupkan komodo. Sebab, ada nilai hubungan dan kepercayaan yang kuat antara manusia dan komodo di sana.

"Ini adalah tanah leluhur kami dan sampai kapanpun akan kami pertahankan. Kami akan tetap di sini tidak akan pindah," tegas Haji Amin.

Penduduk di Desa Komodo (Afif Farhan/detikcom)Penduduk di Desa Komodo (Afif Farhan/detikcom)


Ya, komodo adalah leluhur manusia di Pulau Komodo. Warga Desa Komodo percaya, di zaman dulu ada seorang ibu melahirkan anak kembar yaitu manusia dan komodo. Komodo ditaruh di hutan, sementara sang anak dibesarkan. Hingga tumbuh dewasa, anak itu berburu ke hutan dan bertemu komodo dan mau membunuhnya.

Ketika hendak membunuh, ibunya muncul dan memberitahu anak tersebut bahwa komodo itu adalah saudaranya. Sejak saat itulah, orang-orang di Pulau Komodo percaya bahwa komodo adalah leluhur sekaligus saudara mereka yang harus dijaga.

BACA JUGA: Aksi Damai di Labuan Bajo, Tolak Penutupan Pulau Komodo

Indar Wati, istri dari Haji Amin ikut bicara. Selama ini, hidupnya tidak pernah ada masalah dengan komodo. Bukti keharmonisan komodo dan manusia baginya adalah, dia tidak pernah khawatir anak kecilnya main-main di dermaga dan ketemu komodo.

"Satu-satunya yang saya takutkan: anak saya tenggelam di laut," katanya.

Warga Desa Komodo menggelar aksi damai di Labuan Bajo untuk menolak penutupan Pulau Komodo (dok Istimewa)Warga Desa Komodo menggelar aksi damai di Labuan Bajo untuk menolak penutupan Pulau Komodo (dok Istimewa)


Catatan dari pihak berwenang, tidak ada data lengkap mengenai jumlah kematian atau cedera serius akibat serangan komodo pada warga Desa Komodo. Hanya ada 15 serangan selama satu dekade atau 10 tahun terakhir dan hanya 1 serangan yang fatal.

Indar, penduduk lainnya berujar, pemerintah daerah sudah sejak tahun 1970-an ingin memindahkan penduduk Desa Komodo. Beberapa kali dicoba, percaya tidak percaya, manusianya pindah komodonya pun mengikutinya.

"Jika kita pindah, komodo akan mengikuti kita," terangnya.

BACA JUGA: Isu Penutupan Taman Nasional Komodo, Bikin Turis Was-was

70 Persen warga Desa Komodo sudah menggantungkan hidup dari pariwisata. Kalau Pulau Komodo ditutup, maka mata pencaharian orang-orang desanya juga ikut hilang. Dikhawatirkan, warga desa bakal kembali berburu ikan dan itu malah merusak ekosistem di sana.

"Warga desa akan dipaksa untuk kembali ke laut, dan mereka mungkin mulai menggunakan metode yang buruk untuk menangkap ikan seperti menggunakan bom. Itu justru akan menghancurkan kehidupan laut," kata warga desa lainnya, Abdul Gafur Kasim.

Hingga kini, belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat terkait hal ini yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hanya KLHK yang berhak menutup suatu taman nasional, dengan didasari pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pun hingga kini 'The fight for Dragon Island', masih terus berlanjut.



Simak Video "Momen Jokowi Nikmati Labuan Bajo dari Ketinggian"
[Gambas:Video 20detik]
(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA