Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 03 Feb 2022 09:40 WIB

TRAVEL NEWS

Migrant Care Singgung Mafia Karantina, Cerita Pilu Pedagang Kampung China

Tim detikcom
detikTravel
ilustrasi kamar hotel
Ilustrasi kamar hotel (Thinkstock)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu sempat viral curhatan WNA Ukraina yang merasa dibohongi saat karantina di hotel. Dugaan mafia karantina pun muncul.

Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah menyebut kejadian serupa juga dialami pekerja migran Indonesia yang kembali dari luar negeri. Salah satunya, aduan seorang PMI dari Hong Kong yang ditawari Rp 4,5 juta untuk tidak karantina.

"Sekitar Desember lalu, dari bandara ke Wisma Atlet, oknum petugas mengatakan tidak perlu karantina, waktu itu mereka minta Rp 4,5-5 juta kemudian bisa langsung pulang ke daerah asalnya," kata Anis seperti dikutip detikTravel dari BBC, Selasa (1/2/2022).

Anis menambahkan oknum petugas tersebut meminta paspor PMI tersebut supaya, "Secara administratif tercatat melakukan isolasi, tapi secara fisik tidak ada."

"Kemudian PMI itu melapor ke kami dan kami dampingi untuk pengambilan paspor," kata dia.

Dugaan mafia karantina juga diungkapkan oleh Mawar, seorang PMI dari Singapura, bukan nama sebenarnya.

Mawar mengatakan dimintai uang sekitar Rp 450.000 oleh petugas saat karantina untuk mengurus pendaftaran IMEI telepon genggamnya yang sebenarnya, kata dia, gratis.

"Katanya untuk ongkos dari wisma ke bandara. Bayangkan kalau ada 10 hingga 20 orang, berapa jumlahnya? Padahal gratis," ujar Mawar.

Melihat rangkaian pelanggaran yang terjadi, Anis Hidayat, dari Migrant Care, setuju jika disebut adanya mafia karantina.

"Mafia karantina itu memanfaatkan posisi rentan mereka yang datang dari luar negeri, bagaimana meraup keuntungan dari posisi rentan korban. Itu yang terjadi dalam pelanggaran karantina," kata Anis.

Lalu mengapa itu bisa terjadi? Anis menuding sistem karantina memunculkan dan memberi ruang bagi mafia untuk beraksi.

"Jadi pengawasan, SOP, koordinasi, tidak jalan, sehingga yang datang ke Indonesia asal didata saja, di-checklist berapa masuk, tanpa cek fisik. Ketika ada penipuan, tidak terekam sehingga membuka ruang manipulasi dan kecurangan," katanya.

Untuk itu, Anis meminta pemerintah untuk segera mengevaluasi sistem, kebijakan dan petugas karantina.

Itulah berita detikTravel terpopuler hari Rabu kemarin (2/2/2022). Kemudian jug ada cerita pilu dari pedagang di Kampung China Kota Wisata Cibubur, yang mengaku sepi pembeli bahkan di momen Imlek.

Berikut 10 berita detikTravel terpopuler lengkapnya:



Simak Video "Simak! Cara Booking Hotel Karantina Bagi Pelancong dari LN"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA